Impian yang Ternyata Belum Benar-Benar Mati


Hari ini, ketika melihat sebuah acara kesenian di kampung tempat saya tinggal, tiba-tiba muncul perasaan yang sulit saya jelaskan.

Ada kerinduan.

Bukan hanya kerinduan terhadap sesuatu yang pernah saya miliki, tetapi terhadap sebuah impian yang sudah begitu lama saya pendam. Impian yang dahulu terasa begitu dekat, tetapi perlahan menjauh karena kesempatan tidak pernah datang.

Saya lahir dan tumbuh sebagai anak kota. Sejak kecil, kehidupan saya lebih banyak bersentuhan dengan suasana perkotaan. Rumah berada di pinggiran jalan utama, bukan di tengah perkampungan yang kehidupan masyarakatnya begitu kuat.

Karena itu, ketika akhirnya tinggal di sebuah padukuhan, banyak hal yang menjadi pengalaman baru bagi saya.

Ada kegiatan masyarakat yang rutin dilakukan. Ada kebersamaan yang terasa begitu hidup. Ada kesenian, tradisi, dan budaya yang masih dijaga. Ada suara-suara kehidupan masyarakat yang dahulu mungkin hanya saya lihat dari kejauhan, tetapi sekarang menjadi bagian dari keseharian.

Awalnya, tidak semuanya mudah saya terima.

Saya mengalami semacam culture shock.

Ada kebiasaan yang berbeda. Ada cara masyarakat berinteraksi yang berbeda. Ada kegiatan-kegiatan yang sebelumnya tidak pernah saya temui dalam kehidupan sehari-hari.

Namun perlahan saya mulai melihat sesuatu yang lain.

Di balik semua perbedaan itu, ternyata ada kekayaan yang selama ini jarang saya rasakan.

Kebersamaan.

Gotong royong.

Kesenian.

Tradisi.

Dan rasa memiliki terhadap lingkungan tempat tinggal.

Hari ini, ketika melihat pertunjukan kesenian itu, semuanya seperti tiba-tiba menyentuh bagian diri saya yang selama ini terlupakan.

Saya teringat bahwa sebenarnya ada jiwa seni yang mengalir dalam diri saya.

Dahulu, saya pernah mempunyai impian untuk berkesenian. Pernah membayangkan bisa ikut menciptakan sesuatu, berkarya, bahkan mungkin ikut menjaga dan melestarikan kebudayaan

Tetapi hidup berjalan dengan caranya sendiri.

Kesempatan yang saya harapkan tidak pernah benar-benar datang.

Kesibukan, keadaan, pilihan hidup, dan berbagai persoalan membuat impian itu perlahan saya simpan di tempat yang jauh.

Bukan karena saya tidak lagi mencintainya, tetapi karena saya mulai belajar menerima kenyataan bahwa tidak semua impian bisa diwujudkan.

Lama-kelamaan, saya bahkan hampir lupa bahwa impian itu pernah ada.

Sampai hari ini.

Sebuah pertunjukan kesenian di sebuah padukuhan kembali mengetuk pintu yang selama bertahun-tahun saya tutup.

Tiba-tiba saya bertanya kepada diri sendiri:

Benarkah impian itu sudah mati?

Atau sebenarnya ia hanya sedang menunggu?

Mungkin selama ini saya terlalu cepat menganggap sebuah impian telah berakhir hanya karena saya belum mendapatkan kesempatan untuk mewujudkannya.

Padahal, usia bertambah bukan berarti keinginan harus ikut menua dan mati.

Kesempatan yang tidak datang dahulu bukan berarti tidak akan pernah datang.

Dan mungkin, tinggal di lingkungan yang penuh dengan kegiatan masyarakat, seni, dan budaya ini bukan sekadar sebuah perubahan tempat tinggal.

Mungkin ada alasan lain yang belum saya pahami.

Mungkin kehidupan sedang membawa saya kembali mendekati sesuatu yang dahulu pernah saya tinggalkan.

Saya tidak tahu apakah suatu hari nanti saya benar-benar bisa mewujudkan impian itu.

Saya juga tidak tahu dalam bentuk apa impian tersebut akan hadir.

Mungkin bukan sebagai seorang seniman besar.

Mungkin bukan melalui panggung yang megah.

Bisa jadi hanya dengan menulis.

Mendokumentasikan cerita.

Mengenalkan kesenian kepada orang lain.

Membantu sebuah kegiatan kecil.

Atau sekadar ikut menjaga agar sebuah tradisi tidak hilang begitu saja.

Sebab melestarikan kebudayaan mungkin tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.

Kadang-kadang, ia dimulai dari kepedulian kecil seseorang yang merasa bahwa sesuatu yang berharga tidak seharusnya dibiarkan menghilang.

Dan malam ini saya kembali menyadari sesuatu.

Jiwa seni yang selama ini saya kira hanya menjadi angan, ternyata masih ada.

Ia tidak hilang.

Ia hanya lama tertidur.

Begitu pula impian untuk ikut melestarikan kebudayaan.

Mungkin selama ini saya menganggapnya hanya sebuah mimpi karena kesempatan tidak pernah ada.

Tetapi setelah melihat kesenian itu hari ini, saya mulai berpikir:

barangkali impian yang lama terpendam bukan selalu impian yang harus dikubur.

Ada impian yang hanya sedang menunggu kita menemukan jalan untuk pulang kepadanya.

 

Catatan Pena

Hidup terkadang membawa kita ke tempat yang tidak pernah kita rencanakan. Di tempat itu, kita bisa mengalami banyak hal yang berbeda, bahkan membuat kita merasa asing.

Namun bisa jadi, di balik rasa asing itu, ada bagian dari diri kita yang justru sedang dipertemukan kembali.

Hari ini saya melihat sebuah kesenian.

Tetapi yang sebenarnya saya temukan bukan hanya sebuah pertunjukan.

Saya menemukan kembali sebuah impian lama.

Impian yang pernah saya kira telah mati.

Ternyata ia masih hidup.

Hanya menunggu untuk kembali saya dengarkan.

Post a Comment for "Impian yang Ternyata Belum Benar-Benar Mati"