Cara Berhenti Mencari Validasi Orang Lain
Kalau tidak ada yang mengakui, apakah yang saya lakukan masih berarti?
Mungkin Anda pernah merasakan hal seperti itu.
Sudah melakukan sesuatu dengan baik, tetapi diam-diam masih menunggu seseorang mengatakan bahwa Anda berhasil.
Sudah membuat keputusan, tetapi kemudian mencari pendapat dari banyak orang untuk memastikan bahwa pilihan Anda benar.
Atau mungkin Anda mengunggah sesuatu di media sosial, lalu tanpa sadar beberapa kali memeriksa siapa saja yang memberikan respons.
Tidak ada yang salah dengan merasa senang ketika mendapatkan apresiasi.
Kita semua manusia.
Wajar jika kita ingin dihargai, didengarkan, dan diterima.
Namun, ada perbedaan antara menikmati apresiasi dan membutuhkan validasi untuk merasa berharga.
Ketika penghargaan dari orang lain mulai menjadi ukuran utama nilai diri, kehidupan perlahan berubah menjadi sebuah pertunjukan.
Kita mulai melakukan sesuatu bukan karena benar-benar menginginkannya, tetapi karena ingin mendapatkan respons tertentu.
Kita ingin dianggap berhasil.
Ingin terlihat baik.
Ingin disukai.
Ingin mendapatkan pengakuan.
Dan tanpa sadar, kita menyerahkan sebagian kendali atas kebahagiaan kepada orang lain.
Padahal, tidak semua orang akan menyukai pilihan kita.
Tidak semua usaha akan mendapatkan apresiasi.
Tidak semua keputusan akan dipahami.
Jika harga diri kita bergantung pada semuanya itu, kita akan mudah merasa kecewa.
Karena itu, belajar berhenti mencari validasi bukan berarti berhenti menghargai pendapat orang lain.
Ini tentang belajar mengatakan kepada diri sendiri:
"Saya tetap berharga, bahkan ketika tidak semua orang menyetujui saya."
Apa Itu Validasi dan Mengapa Kita Mencarinya?
Validasi adalah pengakuan atau penerimaan dari orang lain yang membuat kita merasa bahwa perasaan, keputusan, atau keberadaan kita dianggap bernilai.
Dalam kehidupan sehari-hari, validasi bisa hadir dalam banyak bentuk.
Pujian.
Persetujuan.
Likes dan komentar.
Pengakuan atas pekerjaan.
Ucapan bahwa kita benar.
Bahkan sekadar respons dari seseorang yang kita harapkan.
Mendapatkan validasi sebenarnya bukan sesuatu yang buruk.
Apresiasi dari orang lain bisa membuat kita merasa dihargai dan semakin bersemangat.
Masalah muncul ketika kita mulai berpikir:
"Kalau orang lain tidak mengakui saya, berarti saya tidak cukup baik."
Di titik itu, validasi tidak lagi menjadi sesuatu yang menyenangkan.
Ia berubah menjadi kebutuhan.
Kita mulai membutuhkan respons orang lain agar merasa aman dengan diri sendiri.
Dan ketika respons tersebut tidak datang, kita mulai meragukan nilai diri.
Mencari Validasi Itu Manusiawi
Sebelum melangkah lebih jauh, ada satu hal yang perlu kita pahami.
Jangan terlalu cepat menyalahkan diri sendiri karena masih mencari validasi.
Manusia memang membutuhkan hubungan dengan orang lain.
Kita ingin diterima oleh keluarga.
Ingin dihargai oleh teman.
Ingin diakui dalam pekerjaan.
Ingin dicintai oleh pasangan.
Semua itu merupakan bagian dari kehidupan.
Jadi, tujuan artikel ini bukan membuat Anda menjadi seseorang yang sama sekali tidak peduli dengan pendapat orang lain.
Itu hampir tidak mungkin.
Yang perlu kita bangun adalah kemampuan untuk mendengarkan pendapat orang lain tanpa menjadikan pendapat tersebut sebagai satu-satunya ukuran tentang siapa diri kita.
Anda boleh senang ketika dipuji.
Boleh kecewa ketika kritik datang.
Boleh mempertimbangkan pendapat orang lain.
Tetapi setelah semua itu, Anda tetap perlu memiliki ruang untuk bertanya:
"Apa yang sebenarnya saya yakini?"
Tanda Anda Mulai Terlalu Bergantung pada Validasi
Ketergantungan pada validasi terkadang sulit terlihat karena muncul dalam kebiasaan kecil.
Anda Sulit Mengambil Keputusan Sendiri
Sebelum melakukan sesuatu, Anda merasa perlu bertanya kepada banyak orang.
Bukan sekadar meminta masukan, tetapi karena takut mengambil keputusan sendiri.
Ketika pendapat mereka berbeda-beda, Anda justru semakin bingung.
Pada akhirnya, keputusan tidak lagi dibuat berdasarkan apa yang Anda yakini, tetapi berdasarkan pendapat siapa yang paling banyak didukung.
Padahal, meminta nasihat dan bergantung pada keputusan orang lain adalah dua hal yang berbeda.
Nasihat membantu kita melihat sesuatu dari sudut pandang lain.
Tetapi keputusan tetap membutuhkan tanggung jawab dari diri sendiri.
Anda Takut Mengecewakan Orang Lain
Anda sulit mengatakan "tidak".
Anda menerima permintaan meskipun sebenarnya keberatan.
Anda mengikuti keinginan orang lain meskipun hati tidak nyaman.
Semua dilakukan karena takut dianggap egois, tidak peduli, atau mengecewakan.
Padahal, seperti yang kita bahas dalam Cara Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial, kita tetap bisa menghargai orang lain tanpa harus selalu mengorbankan kebutuhan dan batas diri sendiri. yang terpenting adalah Anda sudah Mengenal Diri Sendiri.
Anda Terlalu Memikirkan Apa Kata Orang
Satu komentar negatif bisa mengganggu pikiran sepanjang hari.
Satu kritik membuat Anda meragukan seluruh kemampuan.
Satu orang yang tidak menyukai Anda membuat Anda bertanya-tanya apakah ada sesuatu yang salah dengan diri sendiri.
Jika hal seperti ini sering terjadi, mungkin masalahnya bukan pada komentar tersebut.
Mungkin kita telah memberikan terlalu banyak kekuasaan kepada pendapat orang lain.
Anda Merasa Harus Membuktikan Diri
Kadang kita tidak benar-benar menikmati pencapaian.
Kita justru sibuk memastikan orang lain mengetahuinya.
Kita ingin terlihat sukses.
Ingin menunjukkan bahwa kita mampu.
Ingin membuktikan kepada orang yang pernah meremehkan kita bahwa mereka salah.
Tidak ada salahnya memiliki ambisi.
Namun, jika seluruh perjalanan hidup hanya digunakan untuk membuktikan sesuatu kepada orang lain, kita bisa mencapai banyak hal tetapi tetap merasa kosong.
Anda Merasa Tidak Berharga Ketika Tidak Dipuji
Ini mungkin tanda yang paling dalam.
Ketika mendapatkan pujian, Anda merasa sangat berharga.
Tetapi ketika tidak ada yang memperhatikan, rasa percaya diri langsung turun.
Artinya, sumber penghargaan terhadap diri masih terlalu banyak berada di luar diri.
Di sinilah kita perlu kembali kepada pembahasan tentang Self Acceptance: Menerima Diri Apa Adanya.
Ketika kita mulai menerima diri, kita belajar bahwa nilai diri tidak selalu harus menunggu pengakuan dari orang lain.
Mengapa Kita Begitu Membutuhkan Pengakuan?
Ada banyak kemungkinan penyebab.
Salah satunya adalah pengalaman masa lalu.
Mungkin sejak kecil kita terbiasa mendapatkan penghargaan ketika berhasil memenuhi harapan tertentu.
Nilai bagus mendapat pujian.
Menjadi anak yang menurut mendapat apresiasi.
Berprestasi membuat orang tua bangga.
Lama-kelamaan, tanpa sadar kita belajar bahwa:
"Saya berharga ketika saya berhasil memenuhi harapan."
Pola tersebut bisa terbawa hingga dewasa.
Kita bekerja keras bukan hanya untuk mencapai tujuan, tetapi juga untuk membuktikan bahwa kita layak dihargai.
Kita berusaha menjadi sempurna agar tidak mengecewakan.
Kita takut gagal karena kegagalan terasa seperti ancaman terhadap harga diri.
Pada beberapa orang, pola seperti ini mungkin berkaitan dengan pengalaman masa kecil yang masih memengaruhi cara mereka melihat diri hingga sekarang.
Karena itu, pembahasan tentang Mengenal Inner Child dan Pengaruhnya nantinya dapat membantu kita memahami lebih dalam bagaimana pengalaman masa lalu bisa membentuk kebutuhan kita terhadap penerimaan dan pengakuan.
Hubungan antara Validasi dan Kebiasaan Membandingkan Diri
Kebutuhan akan validasi juga sering berjalan bersama kebiasaan membandingkan diri.
Kita melihat seseorang lebih sukses.
Kemudian merasa tertinggal.
Melihat seseorang lebih menarik.
Kemudian merasa kurang.
Melihat seseorang memiliki kehidupan yang tampak bahagia.
Kemudian mempertanyakan kehidupan sendiri.
Siklusnya bisa seperti ini:
melihat → membandingkan → merasa kurang → mencari pengakuan → mendapat respons → merasa cukup sementara → kembali membandingkan.
Siklus tersebut tidak pernah benar-benar selesai.
Karena selalu ada orang lain yang bisa terlihat lebih baik dari kita.
Itulah mengapa kita perlu belajar memahami akar dari kebiasaan membandingkan diri, seperti yang sudah dibahas dalam artikel Mengapa Kita Sering Membandingkan Diri?
Bukan karena kita harus berhenti mengagumi keberhasilan orang lain.
Tetapi karena kita perlu berhenti menggunakan kehidupan orang lain sebagai alat untuk mengukur nilai diri sendiri.
Dampak Jika Terus Mencari Validasi
Mungkin awalnya terasa sepele.
Tetapi jika berlangsung lama, ketergantungan pada validasi dapat memengaruhi banyak bagian kehidupan.
Kita menjadi sulit mengambil keputusan.
Takut berbeda.
Mudah kecewa.
Sulit mengatakan tidak.
Terlalu sensitif terhadap kritik.
Bahkan bisa kehilangan kemampuan untuk mengetahui apa yang sebenarnya kita inginkan.
Yang paling melelahkan adalah kita tidak pernah benar-benar merasa selesai.
Setelah mendapatkan satu pengakuan, kita membutuhkan pengakuan berikutnya.
Setelah mendapatkan satu pencapaian, kita membutuhkan pencapaian yang lebih besar.
Setelah mendapatkan pujian dari seseorang, kita kembali mencari pujian dari orang lain.
Akhirnya, kita menjalani kehidupan seperti sedang mengejar sebuah standar yang terus bergerak.
Padahal, mungkin yang sebenarnya kita cari bukanlah pencapaian.
Kita hanya ingin merasa:
"Saya cukup."
Cara Berhenti Mencari Validasi Orang Lain
Berhenti mencari validasi bukan sesuatu yang bisa dilakukan dalam satu hari.
Ini adalah proses belajar memindahkan sumber penghargaan dari luar ke dalam diri.
Berikut beberapa langkah yang bisa Anda coba.
1. Sadari Ketika Anda Sedang Mencari Validasi
Langkah pertama bukan menghentikan kebiasaan tersebut.
Tetapi menyadarinya.
Ketika hendak mengambil keputusan, tanyakan:
Saya melakukan ini karena memang menginginkannya, atau karena ingin mendapatkan pengakuan?
Misalnya Anda ingin membeli sesuatu.
Tanyakan:
"Apakah saya memang membutuhkannya, atau ingin terlihat berhasil?"
Ketika ingin mengunggah sesuatu:
"Apakah saya ingin berbagi, atau ingin mendapatkan pengakuan?"
Tidak semua jawaban akan menyenangkan.
Namun, kejujuran seperti ini membantu kita mengenali pola diri sendiri.
2. Belajar Mempercayai Penilaian Diri
Semakin kita terbiasa meminta persetujuan, semakin sulit kita mempercayai keputusan sendiri.
Karena itu, mulailah dari keputusan-keputusan kecil.
Pilih sesuatu tanpa meminta pendapat semua orang.
Tentukan jadwal sendiri.
Pilih aktivitas yang memang Anda sukai.
Ambil keputusan sederhana dan jalani konsekuensinya.
Pelan-pelan, Anda akan belajar bahwa diri sendiri juga mampu menjadi tempat untuk meminta pertimbangan.
Proses ini berkaitan erat dengan Cara Meningkatkan Percaya Diri.
Percaya diri bukan berarti selalu yakin bahwa keputusan kita benar.
Percaya diri berarti cukup percaya kepada diri sendiri untuk menghadapi kemungkinan bahwa keputusan kita ternyata perlu diperbaiki.
3. Tentukan Ukuran Keberhasilan Anda Sendiri
Jika ukuran keberhasilan selalu dibuat oleh orang lain, kita akan terus mengejar standar yang bukan milik kita.
Karena itu, tanyakan:
"Apa arti hidup yang berhasil bagi saya?"
Bagi seseorang, keberhasilan mungkin berarti memiliki banyak uang.
Bagi orang lain, keberhasilan mungkin berarti memiliki waktu bersama keluarga.
Ada yang ingin membangun bisnis.
Ada yang ingin hidup sederhana.
Ada yang ingin berkarya.
Ada yang ingin memiliki kehidupan yang tenang.
Tidak ada satu definisi keberhasilan yang berlaku untuk semua orang.
Karena itu, mengenal nilai hidup yang Anda miliki menjadi penting.
Ketika nilai hidup sudah lebih jelas, kita memiliki kompas untuk menentukan apa yang memang penting dan apa yang sebenarnya hanya kita kejar demi mendapatkan pengakuan.
4. Berhenti Menjelaskan Diri kepada Semua Orang
Tidak semua orang perlu memahami keputusan Anda.
Kadang kita terlalu sibuk menjelaskan mengapa memilih pekerjaan tertentu.
Mengapa belum membeli rumah.
Mengapa memilih hidup sederhana.
Mengapa tidak mengikuti tren.
Mengapa mengambil jalan yang berbeda.
Penjelasan memang diperlukan dalam situasi tertentu.
Tetapi tidak semua pendapat membutuhkan jawaban.
Anda boleh mengatakan:
"Saya sudah mempertimbangkannya dan saya merasa pilihan ini sesuai dengan kondisi saya."
Kemudian berhenti.
Tidak perlu memenangkan semua perdebatan.
Tidak perlu membuat semua orang setuju.
Ketenangan terkadang datang ketika kita sadar bahwa tidak semua orang harus memahami hidup kita.
5. Belajar Menerima Ketidaksetujuan
Salah satu alasan kita mencari validasi adalah karena takut seseorang tidak setuju.
Padahal, ketidaksetujuan adalah bagian dari kehidupan.
Anda bisa melakukan sesuatu dengan niat baik dan tetap ada orang yang tidak menyukainya.
Anda bisa membuat keputusan yang matang dan tetap ada orang yang menganggapnya salah.
Anda tidak akan pernah bisa mengendalikan semua penilaian orang.
Yang bisa dikendalikan adalah bagaimana Anda meresponsnya.
Dengarkan jika kritik tersebut masuk akal.
Evaluasi jika memang ada yang perlu diperbaiki.
Tetapi jika setelah mempertimbangkannya Anda tetap yakin dengan pilihan tersebut, Anda tidak harus mengubah diri hanya agar semua orang setuju.
6. Bangun Hubungan yang Lebih Sehat dengan Diri Sendiri
Sulit berhenti mencari validasi dari luar jika kita sendiri tidak pernah menghargai diri.
Karena itu, belajar menerima diri menjadi bagian penting dari proses ini.
Anda tidak harus menunggu sukses untuk menghargai diri.
Tidak harus menunggu dipuji.
Tidak harus menunggu orang lain mengatakan bahwa Anda cukup baik.
Mulailah dengan melihat diri secara lebih utuh.
Anda memiliki kelebihan.
Anda juga memiliki kekurangan.
Pernah berhasil.
Pernah gagal.
Pernah membuat keputusan yang tepat.
Pernah melakukan kesalahan.
Semua itu adalah bagian dari perjalanan.
Anda tidak harus menjadi sempurna untuk tetap layak dihargai.
7. Jadikan Diri Sendiri sebagai Tempat Pulang
Ini mungkin langkah yang paling dalam.
Selama ini, ketika merasa ragu, kita mencari jawaban di luar.
"Menurut kamu saya bagaimana?"
"Menurut kamu keputusan saya benar tidak?"
"Kamu bangga dengan saya, kan?"
Tidak ada salahnya bertanya.
Namun, perlahan kita juga perlu belajar kembali kepada diri sendiri.
Duduk.
Diam.
Mendengarkan apa yang kita rasakan.
Memeriksa apa yang kita yakini.
Mengingat nilai hidup yang kita pegang.
Kemudian mengambil keputusan dengan sadar.
Bukan berarti kita tidak membutuhkan orang lain.
Kita tetap membutuhkan keluarga, teman, pasangan, dan orang-orang yang dapat dipercaya.
Tetapi mereka bukan satu-satunya sumber yang menentukan nilai diri kita.
Diri sendiri juga perlu menjadi tempat kita merasa aman.
Apakah Berhenti Mencari Validasi Berarti Tidak Peduli pada Pendapat Orang?
Tidak.
Ini penting untuk dipahami.
Menjadi mandiri secara emosional bukan berarti menjadi keras kepala.
Kita tetap perlu mendengarkan.
Tetap perlu belajar.
Tetap perlu menerima kritik.
Tetap perlu mempertimbangkan perasaan orang lain.
Bedanya, kita tidak lagi menyerahkan seluruh keputusan kepada mereka.
Bayangkan Anda menerima kritik.
Sebelumnya mungkin Anda langsung berpikir:
"Berarti saya memang buruk."
Sekarang Anda bisa berkata:
"Saya akan mendengarkan kritik ini. Kalau memang benar, saya akan memperbaiki diri. Kalau tidak, saya tidak harus menjadikannya ukuran nilai diri saya."
Inilah bentuk kematangan yang ingin kita bangun.
Bukan tidak peduli.
Tetapi tidak kehilangan diri ketika berhadapan dengan penilaian orang lain.
Bagaimana Jika Tidak Ada yang Mengakui Usaha Anda?
Ada kalanya Anda sudah bekerja keras, tetapi tidak ada yang melihat.
Anda sudah berusaha menjadi orang tua yang baik, tetapi tidak ada yang memuji.
Sudah bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi atasan tidak memberikan apresiasi.
Sudah membuat sesuatu dengan sepenuh hati, tetapi respons yang datang sangat sedikit.
Situasi seperti itu bisa terasa menyakitkan.
Tetapi mungkin di situlah kita belajar sesuatu yang penting:
Tidak semua hal yang berharga akan selalu mendapatkan tepuk tangan.
Ada kebaikan yang tidak dilihat.
Ada perjuangan yang tidak diketahui.
Ada proses yang hanya kita sendiri yang memahami.
Jika setiap usaha harus mendapatkan pengakuan agar terasa berarti, kita akan mudah menyerah ketika tidak ada yang memperhatikan.
Karena itu, sesekali katakan kepada diri sendiri:
Saya tahu berapa banyak yang sudah saya perjuangkan.
Mungkin orang lain tidak melihatnya.
Tetapi Anda tahu.
Dan pengetahuan itu juga memiliki nilai.
Menjadi Sumber Validasi bagi Diri Sendiri
Pada akhirnya, tujuan kita bukan menjadi orang yang tidak membutuhkan siapa pun.
Tujuannya adalah memiliki hubungan yang cukup sehat dengan diri sendiri sehingga kita tidak terus-menerus meminta dunia untuk mengatakan bahwa kita berharga.
Anda boleh menerima pujian.
Tetapi tetap menghargai diri ketika tidak dipuji.
Boleh mendapatkan kritik.
Tetapi tidak langsung menganggap diri buruk.
Boleh meminta nasihat.
Tetapi tetap berani mengambil keputusan.
Boleh berbeda.
Tetapi tidak harus membuktikan bahwa orang lain salah.
Boleh gagal.
Tetapi tidak menjadikan kegagalan sebagai identitas.
Dan mungkin, perlahan kita akan sampai pada satu pemahaman sederhana:
Saya tidak harus mendapatkan persetujuan semua orang untuk menjalani hidup yang saya yakini.
Sejenak untuk Merenung
Bayangkan suatu hari Anda melakukan sesuatu yang sangat berarti bagi diri sendiri.
Tidak ada yang mengetahui.
Tidak ada yang memberikan pujian.
Tidak ada komentar.
Tidak ada likes.
Tidak ada orang yang mengatakan bahwa Anda hebat.
Apakah Anda tetap akan melakukannya?
Pertanyaan ini bukan untuk membuat kita berhenti menghargai apresiasi.
Tetapi untuk melihat seberapa besar kehidupan kita masih dipengaruhi oleh pandangan orang lain.
Mungkin jawabannya belum sesuai harapan.
Tidak apa-apa.
Kesadaran adalah awal.
Kita tidak perlu langsung berubah menjadi seseorang yang sama sekali tidak peduli terhadap penilaian orang.
Kita hanya perlu mulai mengembalikan sedikit demi sedikit kendali tersebut kepada diri sendiri.
Catatan Pena
Ada kalanya kita begitu sibuk ingin dianggap baik oleh orang lain sampai lupa bertanya apakah kita sendiri merasa baik dengan kehidupan yang sedang dijalani.
Kita mengejar pujian.
Mengejar pengakuan.
Mengejar pencapaian.
Mengejar sesuatu yang membuat orang lain berkata, "Kamu hebat."
Tetapi setelah semua itu didapat, terkadang masih ada ruang kosong.
Mungkin karena yang kita cari sebenarnya bukan pujian.
Kita sedang mencari keyakinan bahwa diri kita cukup berharga.
Dan menurut saya, keyakinan itu tidak mungkin sepenuhnya diberikan oleh orang lain.
Pujian bisa datang dan pergi.
Pendapat orang bisa berubah.
Orang yang hari ini mengagumi kita mungkin suatu hari tidak lagi peduli.
Karena itu, kita perlu belajar membangun sesuatu yang lebih kuat di dalam diri.
Kemampuan untuk berkata:
Saya tahu siapa diri saya. Saya tahu apa yang saya perjuangkan. Dan saya tidak harus membuat semua orang setuju untuk tetap menghargai diri saya sendiri.
Mungkin kita belum sampai di sana.
Saya pun percaya, proses seperti ini tidak pernah benar-benar selesai.
Tetapi setiap kali kita memilih berdasarkan nilai yang kita yakini, setiap kali kita berani mengatakan tidak, dan setiap kali kita tetap menghargai diri meskipun tidak mendapatkan pengakuan, kita sedang belajar menjadi lebih bebas.
Pertanyaan untuk Anda
Cobalah jawab dengan jujur:
Dalam hal apa saya paling sering mencari persetujuan orang lain?
Apa yang paling saya takutkan ketika seseorang tidak menyetujui pilihan saya?
Jika tidak ada seorang pun yang melihat atau memuji, apa yang tetap ingin saya lakukan?
Selama ini, apakah saya menjalani kehidupan yang saya inginkan atau kehidupan yang ingin saya tunjukkan kepada orang lain?
Tidak perlu mencari jawaban yang sempurna.
Tuliskan saja apa yang muncul pertama kali.
Kadang jawaban pertama justru paling jujur.
Langkah Kecil Hari Ini
Hari ini, pilih satu keputusan kecil yang biasanya Anda tanyakan kepada orang lain.
Kemudian berhenti sejenak.
Tanyakan kepada diri sendiri:
Apa yang sebenarnya saya inginkan?
Jika keputusannya tidak berisiko besar dan tidak merugikan orang lain, cobalah mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan Anda sendiri.
Tidak perlu diumumkan.
Tidak perlu dibuktikan kepada siapa pun.
Lakukan saja.
Biarkan diri Anda merasakan bahwa Anda juga mampu menjadi tempat untuk mempercayai sebuah keputusan.
Karena kepercayaan kepada diri sendiri tidak tumbuh dari satu keputusan besar.
Ia tumbuh dari banyak keputusan kecil yang kita buat dengan sadar.
Lanjutkan Perjalanan Mengenal Diri
Ketika kita mulai berhenti mencari validasi dari luar, mungkin akan muncul pertanyaan baru:
"Mengapa saya begitu membutuhkan pengakuan sejak awal?"
Untuk sebagian orang, jawabannya mungkin tidak hanya berada pada kehidupan hari ini.
Ada pengalaman masa lalu yang mungkin ikut membentuk cara kita memandang diri, merasa aman, dan mencari penerimaan.
Karena itu, perjalanan berikutnya akan membawa kita lebih dalam melalui Mengenal Inner Child dan Pengaruhnya.
Kita akan mencoba melihat bagaimana pengalaman masa kecil dapat meninggalkan pola tertentu yang masih terbawa hingga dewasa.
Setelah itu, perjalanan Pilar 1 akan mengarah pada satu kemampuan penting lainnya:
belajar percaya pada diri sendiri tanpa terlalu bergantung pada orang lain.
Sebab, mengenal diri bukan hanya tentang mengetahui siapa kita.
Menerima diri bukan hanya tentang berdamai dengan kekurangan.
Dan berhenti mencari validasi bukan berarti tidak membutuhkan siapa pun.
Semua proses ini pada akhirnya membawa kita pada satu tujuan:
mampu berdiri sebagai diri sendiri, sambil tetap terhubung dengan orang lain.

Post a Comment for "Cara Berhenti Mencari Validasi Orang Lain"