Kami Dibilang Toxic, Padahal Kami Hampir Tak Pernah Bicara

Tidak pernah berinteraksi tetapi dianggap toxic

Kami Dibilang Toxic, Padahal Bicara Saja Bisa Dihitung Dengan Jari

Saya tinggal di sebuah kavling kecil.
Jumlahnya sepuluh rumah.
Kami semua pendatang.

Bukan warga lama.
Bukan komunitas yang akrab.

Sebagian besar dari kami sama:
berangkat pagi,
pulang sore—bahkan malam.

Capek.
Masuk rumah.
Istirahat.

Bukan karena sombong.
Bukan karena anti sosial.
Hidup saja sedang sibuk-sibuknya.

Interaksi nyaris tidak ada.
Paling hanya senyum singkat kalau berpapasan.

Lalu datang seorang tetangga baru.

Suatu hari, dia bercerita dengan nada heran.
Katanya, sebelum pindah, ada yang berpesan:

Lingkungan sini orang-orangnya toxic.”

Saya terdiam.

Aneh, kan?

Kami tidak pernah ribut.
Tidak pernah berkonflik.
Bahkan jarang benar-benar berinteraksi.

Bagaimana bisa muncul label seperti itu?

Beberapa waktu kemudian, saya mulai memperhatikan hal lain.
Tetangga ini cukup sering membuat status WhatsApp.
Isinya seperti klarifikasi.
Penegasan.
Pembelaan.

Seolah-olah ada yang membicarakan dia.
Seolah-olah ada yang menggunjing.

Padahal kenyataannya sederhana:
kami hampir tidak pernah bicara apa pun.

Tidak ada obrolan.
Tidak ada forum.
Tidak ada kumpul-kumpul.

Dan di situ saya mulai merasa janggal.

Bukan karena statusnya.
Tapi karena rasa diserang itu muncul tanpa serangan nyata.

Saya lalu sampai pada satu kesimpulan pelan-pelan:

Kadang, yang paling sering menyebut lingkungannya toxic,
justru sedang berperang dengan prasangkanya sendiri.

Diam orang lain dianggap ancaman.
Ketenangan disalahartikan sebagai permusuhan.

Bukan karena ada masalah nyata,
tapi karena pikiran sudah lebih dulu membangun cerita.

Dan di zaman sekarang,
cerita sering terasa lebih nyata
dibanding kenyataan itu sendiri.

Di titik itu, saya juga belajar satu hal penting.

Menghadapi orang seperti ini sebenarnya tidak rumit.
Kita tidak perlu membalas.
Tidak perlu menjelaskan.
Tidak perlu ikut masuk ke cerita yang tidak pernah kita mulai.

Cukup diam.
Fokus ke diri sendiri.
Jaga keluarga.
Jalani hidup kita dengan tenang.

Bukan karena kalah.
Tapi karena tidak semua arena layak dimasuki.

Dan sering kali,
ketika tidak ada respon,
yang tersisa hanyalah pikirannya sendiri.

Itu bukan lagi urusan kita.


Hidup bertetangga hari ini memang berubah.
Tidak selalu hangat.
Tidak selalu akrab.

Tapi mungkin,
yang paling perlu dijaga
bukan seberapa sering kita bicara—

melainkan seberapa hati-hati kita menaruh prasangka.

Karena kadang,
yang paling melelahkan bukan lingkungan yang toxic,
melainkan pikiran yang tidak pernah benar-benar tenang.

Post a Comment for "Kami Dibilang Toxic, Padahal Kami Hampir Tak Pernah Bicara"