Kenali Siapa Dirimu: Terima Diri Apa Adanya
Kadang kita baru benar-benar mengenal diri sendiri setelah berhenti memaksa diri menjadi seseorang yang bukan diri kita.
Ada masa ketika kita begitu sibuk memperbaiki diri sampai lupa mengenali diri sendiri.
Kita ingin menjadi lebih pintar.
Lebih percaya diri.
Lebih sukses.
Lebih menarik.
Lebih kuat.
Lebih seperti orang lain yang kita kagumi.
Semua keinginan itu sebenarnya tidak salah.
Keinginan untuk berkembang adalah sesuatu yang baik.
Namun ada satu pertanyaan yang sering terlupakan:
“Apakah saya benar-benar mengenal diri saya sendiri?”
Sebab sebelum berusaha menjadi lebih baik, mungkin kita perlu belajar menerima siapa diri kita hari ini.
Bukan berarti berhenti berkembang.
Bukan berarti membenarkan semua kekurangan.
Tetapi berani melihat diri sendiri dengan jujur tanpa terus-menerus merasa bahwa diri kita tidak cukup baik.
Bagi saya, menerima diri adalah salah satu pintu untuk mengenal diri sendiri.
Kita Sering Mengenal Diri dari Penilaian Orang Lain
Sejak kecil, kita sering mendapatkan penilaian.
Anak pintar.
Anak nakal.
Anak pendiam.
Anak pemalu.
Anak yang berprestasi.
Tanpa sadar, penilaian tersebut bisa menjadi bagian dari cara kita melihat diri sendiri.
Ketika sering dipuji karena pintar, kita mungkin takut melakukan kesalahan karena khawatir tidak lagi dianggap pintar.
Ketika sering dianggap tidak mampu, kita mungkin tumbuh dengan keyakinan bahwa diri kita memang tidak mampu.
Padahal, manusia jauh lebih kompleks daripada sebuah label.
Kita tidak hanya terdiri dari kelebihan yang dipuji orang lain.
Kita juga memiliki kekurangan, ketakutan, pengalaman, harapan, dan sisi diri yang mungkin belum kita pahami.
Karena itu, mengenal diri membutuhkan keberanian untuk melihat diri sendiri tanpa hanya menggunakan kaca mata orang lain.
Menerima Kekurangan Bukan Berarti Menyerah
Ada salah pengertian tentang menerima diri.
Sebagian orang menganggap bahwa jika kita menerima kekurangan, berarti kita tidak perlu berubah.
Menurut saya, justru sebaliknya.
Ketika kita tidak mau mengakui kekurangan, kita akan sulit memperbaikinya.
Misalnya, seseorang menyadari bahwa dirinya mudah marah.
Jika ia terus mengatakan:
“Saya memang seperti ini.”
maka ia mungkin tidak pernah berusaha memperbaikinya.
Tetapi jika ia berkata:
“Saya memang mudah marah, dan saya ingin belajar mengendalikan reaksi saya,”
maka penerimaan tersebut justru menjadi awal perubahan.
Ada perbedaan besar antara menerima keadaan dan menyerah kepada keadaan.
Menerima berarti mengakui kenyataan.
Menyerah berarti berhenti berusaha.
Kita bisa melakukan yang pertama tanpa harus melakukan yang kedua.
Saya Punya Kelebihan, Saya Juga Punya Kekurangan
Semakin kita mengenal diri, semakin kita menyadari bahwa tidak ada manusia yang hanya memiliki satu sisi.
Saya punya hal-hal yang bisa saya banggakan.
Tetapi saya juga mempunyai kelemahan.
Ada keputusan yang pernah saya ambil dengan benar.
Ada pula keputusan yang kemudian saya sesali.
Ada hal yang bisa saya lakukan dengan baik.
Ada hal lain yang membutuhkan banyak usaha.
Dulu mungkin saya ingin menghilangkan semua kekurangan tersebut.
Sekarang saya mulai melihatnya dengan cara yang berbeda.
Kekurangan bukan berarti seluruh diri saya buruk.
Satu kegagalan tidak menggambarkan seluruh kemampuan saya.
Satu kesalahan tidak menghapus semua kebaikan yang pernah saya lakukan.
Dan satu kelemahan tidak membuat saya menjadi manusia yang tidak berharga.
Saya adalah keseluruhan perjalanan itu.
Berhenti Menuntut Diri untuk Sempurna
Keinginan menjadi lebih baik terkadang berubah menjadi tuntutan untuk menjadi sempurna.
Kita merasa tidak boleh gagal.
Tidak boleh terlihat lemah.
Tidak boleh salah.
Tidak boleh tertinggal.
Tidak boleh memiliki kekurangan.
Masalahnya, standar seperti itu tidak mungkin kita penuhi sepanjang hidup.
Selalu akan ada sesuatu yang kurang.
Selalu ada orang yang lebih unggul dalam bidang tertentu.
Selalu ada pencapaian yang belum kita raih.
Jika kebahagiaan kita bergantung pada kesempurnaan, kita mungkin akan terus merasa kurang.
Karena itu, saya belajar membedakan antara:
“Saya ingin berkembang.”
dan
“Saya tidak cukup baik kalau belum sempurna.”
Yang pertama membuat kita bertumbuh.
Yang kedua membuat kita terus memusuhi diri sendiri.
Mengenali Diri Berarti Berani Jujur
Menerima diri membutuhkan kejujuran.
Kita tidak hanya melihat sisi yang menyenangkan.
Kita juga perlu berani melihat sisi yang tidak ingin kita akui.
Mungkin kita ternyata mudah iri.
Mungkin kita terlalu membutuhkan pengakuan.
Mungkin kita takut mengambil keputusan.
Mungkin kita sering menunda.
Mungkin kita terlalu bergantung pada pendapat orang lain.
Mungkin kita memiliki kebiasaan yang sebenarnya tidak baik untuk diri sendiri.
Mengakui semua itu memang tidak selalu nyaman.
Tetapi bagaimana kita bisa memperbaiki sesuatu yang bahkan tidak mau kita akui?
Maka menerima diri bukan berarti mengatakan:
“Saya sempurna seperti ini.”
Melainkan:
“Inilah saya saat ini. Saya akan belajar memahami diri saya dan memperbaiki apa yang memang perlu diperbaiki.”
Jangan Jadikan Kekurangan sebagai Identitas
Ada perbedaan antara:
“Saya memiliki kekurangan.”
dan
“Saya adalah orang yang penuh kekurangan.”
Kalimat pertama menunjukkan bahwa kekurangan hanyalah salah satu bagian dari diri.
Kalimat kedua membuat kekurangan seolah-olah menjadi seluruh identitas kita.
Padahal kita jauh lebih besar daripada satu kelemahan.
Jika kita pernah gagal, kita bukan berarti seorang yang gagal.
Jika kita pernah salah mengambil keputusan, bukan berarti kita adalah orang yang selalu salah.
Jika kita pernah kehilangan kepercayaan diri, bukan berarti kita tidak akan pernah percaya diri lagi.
Kita masih bisa belajar.
Masih bisa berubah.
Masih bisa bertumbuh.
Kita Tidak Harus Menjadi Seperti Orang Lain
Salah satu penghalang terbesar untuk menerima diri adalah perbandingan.
Kita melihat kehidupan orang lain dan merasa kehidupan kita kurang.
Melihat pencapaian orang lain dan merasa diri tertinggal.
Melihat penampilan orang lain dan merasa diri tidak cukup menarik.
Padahal kita hanya melihat sebagian kecil dari kehidupan mereka.
Kita tidak tahu seluruh perjuangan mereka.
Dan yang lebih penting, kita memang tidak sedang menjalani kehidupan mereka.
Setiap manusia memiliki latar belakang, kemampuan, kesempatan, dan perjalanan yang berbeda.
Karena itu, ukuran keberhasilan seseorang belum tentu menjadi ukuran yang tepat untuk kehidupan kita.
Kita perlu belajar mengenali apa yang benar-benar penting bagi diri sendiri.
Berhenti membandingkan diri sendiri dengan orang lain.
Menerima Diri Membantu Kita Menentukan Arah
Ketika kita terlalu sibuk menjadi seperti orang lain, kita bisa kehilangan arah.
Kita mengejar sesuatu karena semua orang mengejarnya.
Memilih pekerjaan karena dianggap bergengsi.
Mengejar pencapaian karena ingin dipuji.
Membangun kehidupan yang terlihat baik dari luar, tetapi ternyata tidak sesuai dengan apa yang kita butuhkan.
Sebaliknya, ketika mulai menerima diri, kita bisa bertanya dengan lebih jujur:
“Apa yang sebenarnya penting bagi saya?”
“Kehidupan seperti apa yang ingin saya jalani?”
“Apa yang membuat saya merasa berarti?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa kita kembali kepada diri sendiri.
Dan mungkin, dari sanalah kita mulai menemukan arah yang lebih sesuai.
Menerima Diri Bukan Proses Sekali Jadi
Ada hari ketika kita merasa cukup percaya diri.
Ada hari ketika kita kembali meragukan diri sendiri.
Ada masa ketika kita merasa sudah berdamai dengan masa lalu.
Kemudian sebuah kejadian membuat luka lama kembali terasa.
Itu bukan berarti semua proses yang sudah kita jalani sia-sia.
Mengenal dan menerima diri adalah perjalanan.
Kita terus berubah seiring pengalaman.
Karena itu, kita mungkin perlu mengenal kembali diri kita berkali-kali.
Diri kita lima tahun lalu mungkin berbeda dengan diri kita hari ini.
Dan diri kita beberapa tahun ke depan mungkin akan berbeda lagi.
Yang penting adalah kita tidak berhenti mendengarkan diri sendiri.
Pada Akhirnya, Saya Tidak Harus Menjadi Orang Lain
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mencari siapa diri kita di luar diri sendiri.
Melalui pendapat orang.
Melalui pencapaian.
Melalui pekerjaan.
Melalui status.
Melalui pengakuan.
Padahal sebagian jawabannya mungkin sudah ada di dalam diri.
Kita hanya perlu berhenti sejenak dan melihatnya.
Melihat kelebihan.
Melihat kekurangan.
Melihat luka.
Melihat ketakutan.
Melihat harapan.
Melihat nilai-nilai yang kita yakini.
Semuanya adalah bagian dari perjalanan menjadi diri sendiri.
Saya tidak harus menjadi orang lain agar berharga.
Saya tidak harus sempurna agar pantas dihargai.
Saya tidak harus memiliki kehidupan yang sama dengan orang lain agar hidup saya berarti.
Saya hanya perlu terus belajar menjadi diri sendiri dengan lebih sadar.
Karena mungkin, mengenal diri sendiri bukan tentang menemukan manusia sempurna di dalam diri kita.
Mengenal diri adalah keberanian untuk menerima manusia yang sebenarnya ada di dalam diri kita, lalu membantunya terus bertumbuh.
Catatan Pena
Jika hari ini Anda masih memiliki banyak hal dalam diri yang belum bisa Anda terima, jangan buru-buru membenci diri sendiri.
Berikan waktu.
Cobalah melihat diri dengan lebih jujur.
Apa yang Anda sukai dari diri sendiri?
Apa yang masih ingin Anda perbaiki?
Apa yang selama ini Anda sembunyikan karena takut dinilai?
Dan bagian mana dari diri Anda yang sebenarnya hanya membutuhkan sedikit pengertian?
Tidak semua kekurangan harus diselesaikan hari ini.
Tidak semua luka harus sembuh sekaligus.
Yang penting, Anda mulai berhenti memusuhi diri sendiri.
Sebab ketika kita mampu menerima diri dengan lebih jujur, kita tidak hanya menjadi lebih damai.
Kita juga mulai memiliki kesempatan untuk benar-benar mengenal:
siapa diri kita sebenarnya.

Post a Comment for "Kenali Siapa Dirimu: Terima Diri Apa Adanya"