Ketika Luka Masa Sekolah Membentuk Cara Seseorang Melihat Dirinya

Sebuah Percakapan di Tengah Reuni

Ada banyak hal yang bisa dibicarakan ketika bertemu teman lama setelah bertahun-tahun tidak berjumpa.

Tentang pekerjaan, keluarga, kehidupan setelah sekolah, teman-teman yang sudah lama tidak ditemui, atau sekadar mengenang tingkah laku masa SMA yang dulu terasa begitu sederhana.

Namun, percakapan saya dengan seorang teman saat reuni beberapa waktu lalu justru membawa kami pada sesuatu yang berbeda.

Kami berbicara tentang masa sekolah.

Tentang kenangan yang menyenangkan, tetapi juga tentang pengalaman yang sebenarnya tidak pernah benar-benar ingin diingat.

Dari percakapan itulah saya mengetahui bahwa seorang teman saya, sebut saja Melati, pernah mengalami perundungan atau bullying semasa SMA.

Saya mengenalnya sebagai seseorang yang cerdas dan memiliki banyak kemampuan. Tetapi saya baru memahami bahwa di balik sosoknya yang terlihat baik-baik saja, ternyata ada pengalaman masa lalu yang pernah membuatnya kehilangan keberanian untuk menunjukkan dirinya.

Dan dari cerita itulah saya kembali berpikir:

Seberapa jauh pengalaman buruk di masa sekolah dapat membentuk seseorang ketika ia tumbuh dewasa?

 

Ketika Sebuah Prestasi Justru Menjadi Awal Masalah

Melati adalah salah satu siswi baru di sebuah SMA Negeri di Yogyakarta.

Ia memiliki penampilan yang menarik, berpostur tinggi, berambut panjang, dan dikenal sebagai siswa yang cukup berprestasi.

Suatu hari, ia mendapat kesempatan mewakili sekolah dalam sebuah perlombaan dan berhasil membawa pulang piala.

Pada upacara hari Senin, Melati maju ke depan untuk menyerahkan piala tersebut kepada sekolah.

Bagi sebagian siswa, tentu saja itu merupakan sesuatu yang membanggakan.

Tetapi ternyata tidak semua orang melihatnya demikian.

Setelah upacara selesai, dua orang kakak kelas menghampirinya.

Mereka menegurnya dengan kata-kata yang membuat Melati bingung sekaligus takut.

Ia dianggap terlalu menonjol, terlalu pintar, mencari perhatian, bahkan diminta untuk tidak mengikuti perlombaan lagi.

Padahal, Melati tidak melakukan kesalahan apa pun.

Ia mengikuti perlombaan karena mendapat tugas dan kepercayaan dari sekolah.

Tetapi pada usia remaja, menghadapi tekanan dari orang yang lebih senior tentu bukan sesuatu yang mudah.

Saat itu mungkin yang muncul dalam pikirannya hanya satu pertanyaan:

“Sebenarnya saya salah apa?”

Pertanyaan sederhana itu ternyata menjadi awal dari perjalanan panjang yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

 

Ketika Keberanian Mulai Digantikan Ketakutan

Beberapa waktu kemudian, Melati kembali dipercaya oleh guru olahraga untuk memberikan contoh senam poco-poco dalam sebuah kegiatan bersama seluruh siswa.

Sekali lagi, ia berada di depan banyak orang.

Namun kali ini bukan tepuk tangan yang ia dapatkan.

Beberapa kakak kelas menghampirinya dan membawanya ke kamar mandi sekolah.

Di sana, ia kembali mendapatkan intimidasi secara verbal. Bahkan kekerasan fisik terjadi.

Sebuah tamparan mendarat di pipinya.

Plak.

Mungkin bagi orang lain suara itu hanya berlangsung sesaat.

Tetapi bagi Melati, kejadian itu meninggalkan sesuatu yang jauh lebih panjang daripada suara tamparan tersebut.

Ketakutan.

Sejak saat itu, sesuatu dalam dirinya mulai berubah.

Ia menjadi lebih cemas.

Ia mulai takut berada di tengah banyak orang.

Ia mulai menarik diri dari pergaulan.

Bahkan ketika guru kembali memintanya mengikuti perlombaan, Melati memilih menolak.

Bukan karena ia tidak mampu.

Bukan karena ia tidak memiliki bakat.

Tetapi karena ia takut.

Takut kejadian yang sama akan terulang kembali.

 

Ketika Bakat Justru Terasa Menakutkan

Hal yang paling menyedihkan dari kisah Melati bukan hanya bullying yang pernah ia alami.

Yang membuat saya merenung justru adalah apa yang terjadi setelahnya.

Melati sebenarnya memiliki banyak kemampuan.

Ia pernah mengikuti berbagai kegiatan seperti baris-berbaris, storytelling, debat, hingga seleksi pertukaran pelajar.

Tetapi satu demi satu kesempatan itu dilepaskannya.

Bakat yang seharusnya menjadi sumber kepercayaan diri justru berubah menjadi sesuatu yang menakutkan.

Ia mulai belajar bahwa tampil di depan orang lain bisa mendatangkan masalah.

Menjadi terlalu menonjol bisa membuat dirinya diserang.

Mendapat pujian dari guru bisa membuat orang lain tidak menyukainya.

Akhirnya, tanpa sadar, ia mungkin mulai membangun sebuah kesimpulan di dalam dirinya:

“Lebih baik saya tidak terlalu terlihat.”

Di sinilah saya menyadari bahwa bullying tidak hanya bisa melukai perasaan seseorang.

Ia dapat mengubah cara seseorang memandang dirinya sendiri.

 

Luka yang Tidak Terlihat

Ketika kita melihat seseorang yang menjadi pendiam, tidak percaya diri, atau enggan tampil di depan umum, kita sering kali hanya melihat perilakunya.

Kita tidak tahu apa yang pernah terjadi di belakangnya.

Mungkin ada seseorang yang dahulu sering ditertawakan.

Mungkin pernah ada anak yang dipermalukan di depan teman-temannya.

Mungkin ada seseorang yang pernah dianggap terlalu berbeda.

Atau mungkin ada seseorang yang pernah mendapatkan kekerasan ketika ia hanya sedang berusaha menjadi dirinya sendiri.

Luka fisik mungkin dapat terlihat.

Memar bisa hilang.

Luka di kulit bisa sembuh.

Tetapi luka psikologis sering kali tidak terlihat oleh mata.

Ia bisa muncul bertahun-tahun kemudian dalam bentuk kecemasan, rasa tidak aman, ketakutan terhadap penilaian orang lain, atau keengganan untuk mengambil kesempatan.

Dan mungkin itulah yang terjadi kepada Melati.

 

Masa SMA Berakhir, Tetapi Ketakutan Tidak Selalu Ikut Pergi

Waktu terus berjalan.

Melati akhirnya menyelesaikan pendidikan SMA dan melanjutkan kuliah di salah satu perguruan tinggi ternama di Yogyakarta.

Ia mengambil jurusan Hubungan Internasional.

Setelah lulus, ia bekerja di salah satu perusahaan keuangan besar di Jakarta.

Jika melihat kehidupannya sekarang, mungkin banyak orang akan mengira bahwa semua pengalaman buruk itu sudah selesai.

Tetapi ternyata tidak sesederhana itu.

Di tempat kerja, kemampuan Melati justru membuatnya kembali dipercaya tampil di depan banyak orang.

Ia beberapa kali ditugaskan menjadi MC, moderator, bahkan menjadi narasumber dalam berbagai acara perusahaan.

Ironisnya, kesempatan yang dahulu mungkin menjadi impiannya justru dapat memunculkan kembali ketakutan lama.

Dalam pikirannya muncul berbagai pertanyaan:

“Bagaimana kalau saya tampil?”

“Apa saya pantas?”

“Bagaimana kalau orang-orang tidak menyukai penampilan saya?”

“Bagaimana kalau saya melakukan kesalahan dan mereka menertawakan saya?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin terdengar sederhana bagi orang lain.

Tetapi bagi seseorang yang pernah mengalami perundungan, ketakutan terhadap penilaian orang lain bisa terasa begitu nyata.

Masa sekolah memang sudah lama berlalu.

Tetapi ingatannya masih bisa ikut berjalan bersamanya.

 

Bagaimana Pengalaman Buruk Membentuk Karakter?

Dari kisah Melati, saya belajar bahwa pengalaman masa lalu dapat ikut membentuk karakter seseorang.

Bukan berarti setiap korban bullying pasti akan memiliki karakter tertentu.

Setiap orang mempunyai cara yang berbeda dalam menghadapi pengalaman buruk.

Ada yang menjadi lebih tertutup.

Ada yang menjadi terlalu berhati-hati.

Ada yang sulit mempercayai orang lain.

Ada yang selalu merasa dirinya kurang.

Namun ada pula yang kemudian tumbuh menjadi pribadi yang lebih peka terhadap perasaan orang lain.

Pengalaman buruk memang tidak selalu menentukan masa depan seseorang.

Tetapi pengalaman itu bisa meninggalkan jejak yang memengaruhi cara seseorang berpikir, bersikap, mengambil keputusan, dan berhubungan dengan orang lain.

Karena itu, menurut saya, salah satu hal penting yang perlu kita pahami adalah:

Jangan terlalu cepat menilai karakter seseorang tanpa mengetahui perjalanan hidup yang membentuknya.

Seseorang yang terlihat pemalu mungkin bukan tidak memiliki kemampuan berbicara.

Ia mungkin pernah dipermalukan.

Seseorang yang enggan tampil mungkin bukan tidak percaya diri.

Ia mungkin pernah dibuat takut ketika mencoba menunjukkan kemampuannya.

Dan seseorang yang terlalu berhati-hati mungkin sedang berusaha melindungi dirinya dari pengalaman yang pernah menyakitinya.

 

Dari Kisah Melati, Saya Belajar Sesuatu

Ada satu hal yang terus teringat oleh saya setelah percakapan dengan Melati.

Betapa mudahnya kita melupakan sebuah kejadian yang pernah kita lakukan kepada orang lain.

Bagi pelaku, mungkin sebuah ejekan hanya dianggap candaan.

Sebuah intimidasi mungkin dianggap sebagai cara menunjukkan kekuasaan.

Sebuah tamparan mungkin dianggap sebagai kejadian yang sudah selesai setelah beberapa menit.

Tetapi bagi orang yang menerimanya, semuanya bisa menjadi bagian dari cerita hidup yang panjang.

Kita mungkin sudah lupa apa yang kita katakan sepuluh atau dua puluh tahun lalu.

Tetapi orang yang mendengarnya mungkin masih mengingatnya sampai hari ini.

Karena itu, saya mulai berpikir bahwa pendidikan tentang bullying bukan hanya tentang mengajarkan anak untuk tidak melakukan kekerasan.

Lebih jauh dari itu, kita perlu mengajarkan empati.

Mengajarkan anak untuk memahami bahwa setiap manusia mempunyai perasaan.

Bahwa perbedaan bukan alasan untuk merendahkan.

Bahwa prestasi seseorang bukan ancaman bagi kita.

Dan bahwa melihat orang lain berhasil seharusnya tidak membuat kita merasa harus menjatuhkannya.

 

Kita Tidak Pernah Tahu Luka yang Dibawa Seseorang

Setelah mendengar cerita tersebut, saya melihat kembali masa sekolah dengan cara yang sedikit berbeda.

Mungkin ada banyak orang yang pernah berada di sekitar kita yang sebenarnya sedang membawa luka.

Teman yang dulu tiba-tiba menjadi pendiam.

Teman yang berhenti mengikuti kegiatan.

Teman yang tidak lagi berani tampil.

Atau seseorang yang perlahan menjauh dari lingkungan pergaulan.

Kita mungkin tidak pernah tahu alasan sebenarnya.

Dan mungkin mereka juga tidak pernah menceritakannya.

Karena itu, saya percaya bahwa menjadi manusia yang baik terkadang tidak membutuhkan sesuatu yang besar.

Cukup dengan tidak merendahkan.

Tidak ikut menertawakan.

Tidak menyebarkan ejekan.

Tidak menikmati penderitaan orang lain.

Dan ketika melihat seseorang sedang dirundung, berusaha menghentikannya atau setidaknya memberikan dukungan kepada korban.

Sebab terkadang, satu tindakan sederhana dari seseorang dapat membuat orang lain merasa bahwa dirinya tidak sendirian.

 

Catatan Pena

Pertemuan dengan Melati membuat saya memahami bahwa masa lalu tidak selalu benar-benar tinggal di masa lalu.

Ada pengalaman yang selesai secara waktu, tetapi belum selesai di dalam hati.

Bullying adalah salah satunya.

Namun saya juga percaya bahwa seseorang bukan hanya kumpulan dari luka yang pernah dialaminya.

Melati tetap tumbuh.

Ia menyelesaikan pendidikan.

Ia membangun karier.

Ia dipercaya tampil di depan banyak orang.

Dan mungkin setiap kali ia berdiri di depan sebuah ruangan, masih ada bagian kecil dalam dirinya yang mengingat masa lalu.

Tetapi hari ini ia memiliki kesempatan untuk menulis ulang makna dari pengalaman tersebut.

Dulu, tampil di depan orang lain mungkin berarti menghadapi ancaman.

Sekarang, tampil di depan orang lain bisa menjadi bukti bahwa dirinya telah berjalan jauh dari masa itu.

Barangkali inilah salah satu bentuk perjalanan manusia:

bukan menghapus semua luka dari masa lalu, tetapi belajar agar luka tersebut tidak lagi menentukan siapa diri kita hari ini.

Dan bagi kita yang pernah menjadi saksi, teman, orang tua, guru, atau bahkan pernah menjadi bagian dari lingkungan yang melakukan bullying, mungkin sudah waktunya bertanya kepada diri sendiri:

“Apakah pernah ada seseorang yang terluka karena kata-kata atau tindakan saya, tetapi sampai hari ini saya bahkan tidak menyadarinya?”

Karena kita tidak pernah benar-benar tahu seberapa panjang sebuah luka yang kita tinggalkan di hati orang lain.

 

Terimakasih "Melati" karena mau sharing pengalaman. Semoga menjadi pelajaran bagi kita semua.

 

Post a Comment for "Ketika Luka Masa Sekolah Membentuk Cara Seseorang Melihat Dirinya"